Balada Mama Balabala

Archive for September 2019

18 September 2019

.

Pernah ga sih nonton sidang DPR di layar kaca? Kalo pernah, pastinya ga asing sama istilah interupsi. “Interupsi, Pimpinan Sidang!”, seru salah seorang anggota DPR. Perkataan tersebut harus diucapkan anggota sidang sebelum mereka mengemukakan pendapat mereka. Minggu ini kami sedang mengajarkan etika interupsi kepada Ciacia. Huff.

.

Kadang-kadang ketika Chrys pulang kerja dan duduk makan malam, dia ingin punya waktu ngobrol ringan sebentar dengan saya. Kebayang ya, pulang2 abis kerja dari luar rasanya capek, lapar. Masalahnya pas kami ngobrol, Ciacia pun juga pengen nimbrung nyaut. Ngomongnya bisa nyambung, bisa ngga. Namun yang pasti, dia suka sekali memotong di tengah pembicaraan kami berdua. Kalo kami ga ngerespons ucapan dia, dia akan berulang-ulang manggil salah satu dari kami. Mengganggu banget dan sering memancing emosi kami berdua. Uda sering Ciacia begitu. Mulai dari teguran halus, peringatan keras, time out, dan rotan pun sudah dilakukan untuk mendisiplinkan dia. Huff.

.

Suatu pagi, Ciacia mengulang hal yg sama. Daddynya sampai harus teriak “Hei!” sampai Ciacia stop bicara. Obrolan saya dengan suamipun berhenti. Suami kesal lalu naik ke atas, meninggalkan saya dan Ciacia di lantai bawah. Dalam kondisi Ciacia berulah, salah satu prinsip yg harus diingat kami adalah, kalau salah satu pasangan mulai capek / emosi, pasangan yg lain sebaiknya harus lebih tenang. Kalo dua2nya ikut emosi, yg ada hanya marah untuk melampiaskan kekesalan ke Ciacia saja. Saya yg mumpung masih lebih adem mendekati Ciacia. Akhirnya saya bilang begini ke dia:

“Ciacia, Mama sm Daddy kan uda sering bilang. Kalo kami lagi bicara, Ciacia ga boleh berisik. Ga boleh teriak2. Kalo mau ngomong, tunggu kami selesai bicara dulu. Sekarang kamu beresin sama Daddy. Minta maaf ya. Kalo ga minta maaf, nanti hatimu sedih terus. Nih, Mama ajarin, kalo Ciacia mau ngomong pas Mama Daddy lg ngobrol, kamu tepuk badan Mama/Daddy, terus bilang Ciacia mau ngomong. Kalo kami bilang tunggu berarti kamu harus tunggu ya. Kalo kami bilang ya, kenapa, baru kamu boleh ngomong. Kalo 3 kali peringatan dari Mami / Daddy, Ciacia ga mau tunggu buat ngomong, kami rotan ya. ”

Ciacia setuju. Setelah itu, dia minta maaf dengan Daddynya. Daddynya jg minta maaf karena sudah teriak di depan Ciacia. Sayapun memberi tahu suami tentang kesepakatan interupsi yg saya ajarkan ke Ciacia sebelumnya. Huff, semoga dia mengerti.

.

Keesokannya saat kami ada kesempatan ngobrol berdua kembali di pagi hari, Ciacia yang sedang sarapan mau interupsi kembali. Saya sambil kerja di depan laptop merasa ada yg menepuk tangan saya berkali-kali. Masi ga ngeh, Ciacia bilang: “Aku mau ngomong, Mama.” Saya terkejut sambil tertawa, “Oh iya, ada apa Ciacia?”. Tidak disangka, langsung dia praktekkan ajaran interupsi saya. Langsung saya puji, “Wah, Ciacia good job ya! Ga sembarangan motong Mami Daddy lagi ngobrol.”

.

Saya bersyukur banget Tuhan kasi hikmat supaya saya bisa dg tenang ajarin Ciacia untuk lebih sopan dan lebih sabar untuk bicara. Jadi diingatkan juga sbg org dewasa untuk ga sembarangan motong pembicaraan orang lain. Bersyukur juga Tuhan kasi kesabaran untuk membicarakan hal ini dengan Ciacia. Kalo saya ikutan emosi, yah wassalam deh. Anak jadi ga nangkep donk nilai yg mau dibagikan. Bersyukur Tuhan mampuin saya yg lemah ini. Semoga bisa jadi momen peringatan yg baik buat tantangan mendidik Ciacia dalam hal2 yg lain. SEMANGATTT! 🔥🙏

6 September 2019

.

Blog kali ini saya mau sederhana saja. Saya hanya mau bersyukur dan bersyukur. Tanggal 28 minggu lalu, saya genap memasuki usia 33. Tidak ada pesta besar. Hanya perayaan kecil bersama manusia-manusia kesayangan saya. Daddy & Ciacia. Makan malam di restoran yang saya sudah request ke Pak Suami. Saya kangen makan sushi enak. Jadi berangkatlah kami sore itu ke restoran sushi yang sudah bercokol di Indonesia sejak lama itu.

Entah kenapa bisa makan sushi yg proper aja rasanya senengggg bgt. Saya jadi ingat suami pernah berkata: “Apa yang kita alami sekarang ini sebenernya adalah apa yang kita inginkan di masa lalu”. Sayapun mulai berpikir dan mengiyakannya. Kira2 apa ya yg dulu saya inginkan dan sekarang ini saya bisa menikmatinya? Hmmm…

.

Tempat Tinggal 

Dulu sebelumnya kami tinggal di toko kue di lantai atas yang lokasinya berada persis di pertigaan jalan. Bukan area perumahan. Pusat niaga dimana hampir sekeliling kami ada aja rupa-rupa usaha dagangnya. Polusi suara dan udara sudah jadi hal yg biasa dulu. Ruang gerak bermain Ciacia pun terbatas. Sekarang setelah pindah ke perumahan cluster (walau masih sewa : p), kami sungguh sangat mensyukuri tempat tinggal yg lebih bebas polusi dan menyediakan banyak area bermain yg aman untuk Ciacia. THANK YOU, GOD 🙂

Struktur Hidup

Seiring dengan terpisahnya tempat tinggal dan tempat usaha kami, hidup kami jadi lebih teratur karena tidak bergantung pada jam buka toko. Ciacia juga berhasil disapih sehingga waktu tidur kami lebih panjang dan berkualitas (Ciacia jarang kebangun lagi di tengah malam). Ruang gerak yang lebih luas memudahkan saya untuk mengatur area kerja saya di rumah dan area bermain Ciacia. Pekerjaan jadi lebih cepat selesai dan kami bisa tidur bersama2 (kalo dulu, karena pekerjaan banyak yg belum selesai, saya masih harus lanjut kerja setelah Ciacia tidur, huhu). Dan karena jam tidur lebih teratur, jam bangun ikutan teratur. Saya jadi lebih mudah bangun pagi dan punya waktu teduh bersama Tuhan. Yeay! Oh ya, ada laptop baru jg memudahkan saya bekerja di rumah lebih cepat dibanding dulu saya bekerja dari HP. THANK YOU, GOD 🙂

Ciacia Bertumbuh 

Proses menyusui yg melelahkan berakhir juga. Hahaha. Bersyukur Ciacia gak susah makan. Bisa disapih dg baik (walau tetap ada drama pastinya, namun dalam seminggu sudah bisa lepas nenen dg baik). Bersyukur Ciacia secara umum sehat. Sakit kadang ada tapi pemulihannya cukup baik. Aktif secara linguistik (alias bawel) dan motorik (alias suka gerak, hahaha). Ciacia jg sudah bisa bilang kalo dia mau pup atau pipis. Yeay, biaya popok berkurang! Hahaha. Popok masih dipakai waktu tidur malam. Pelan2 ya Nak kita belajar kedewasaan dalam membuang hajat : p. THANK YOU, GOD!

Berkecukupan

Kami masih keluarga yg berjuang secara finansial. Ada banyak harapan dan keinginan yg masih kami perjuangkan untuk kualitas hidup yg lebih baik. Lebih produktif. Lebih memberkati. Namun saya juga menyadari betapa Tuhan benar2 sangat MENCUKUPKAN kami hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Bukan MELEBIHKAN. Apalagi MENGURANGI. MENCUKUPKAN. Terutama MELATIH HATI kami untuk berkata CUKUP. Saya rasa tidak habis-habisnya rasa syukur saya mengingat pemeliharaan dan pembentukan Tuhan dalam hal ini. THANK YOU, GOD! 🙂

Sadar Hidup Sehat

Dulu saya pengennnnnnnnnn banget bisa olahraga rutin. Cuma susah karena tinggal di toko sempit. Dulu juga mungkin karena stress, saya larinya ke makan (apalagi sambil jaga toko kue, sekalian bantu abisin dagangan hari itu, hahahahaha). Alhasil badan saya dan suami makin lebar dan melar. Huhu. Bersyukur banget belakangan kami mulai belajar lebih berkesadaran untuk hidup sehat. Kami masih mau produktif dalam bekerja dan berusaha. Bersyukurrr banget belakangan kami mulai belajar mengendalikan diri dalam perihal makan. Memaksakan diri untuk berolahraga secara rutin. Ini yang saya rindukan jaman dulu. Akhirnya jadi kenyataan, huaaaaa. THANK YOU, GOD! : )

.

Kalau diusahain, daftar masih bisa lebih panjang. Tapi saya rasa ini daftar utama saya. Terima kasih, Tuhan. Kiranya Tuhan terus melatih kami untuk selalu punya hati yang bersyukur. THANK YOU, GOD!


Archives

September 2019
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30