Thoughts, Craps, and Wisdom

Jika saya gagal?
Jika saya menyerah?
Jika saya mencoba?
Jika saya berhasil?

Bagaimana jika…

Saya ditolak?
Saya terjatuh?
Saya nyasar?

Bagaimana jika…

Saya diterima?
Saya bangkit?
Saya menemukan? Ditemukan?

“Bagaimana jika…?”
Mengisi 95% otak
Mengatur 50% kehidupan
Membunuh 75% manusia
Melahirkan 1001 rencana

Menambah ubanmu
Menoreh keriputku
Membangunkanmu tiba-tiba
Menenggelamkanmu pelan-pelan

Sssttt, kata iman
Tenang, Tuhan berbisik
Biar kami yang menjawab
Ujar mereka serempak

Kitapun lelah bertanya
Kita sungguh ingin istirahat
Matapun terlelap

Tenang

Karena iman dan Tuhan telah bicara

Esok pagi saat bangun…

Kita harus berjalan lagi : )

Kapan terakhir kita bertemu? Aku sibuk. Tapi aku kangen. Mau ngobrol sama Kamu. Mau nyanyi buat Kamu. Seakan lirik adalah doa itu sendiri. Seakan lirik adalah percakapan kita.

Uda lama aku ga belajar diam. Dengerin suara Kamu dalam-dalam. Baca surat cintaMu yang terpendam.

Ga heran aku sering jatuh. Ga heran aku sulit untuk percaya. Ga heran aku sering sombong. Ga heran aku sering lupa kalo Kamu sayang aku.

Ngobrol, Tuhan. Ngobrol. Tiap hari, tiap saat. Aku mau ngobrol sama Kamu. Tidak! Bahkan lebih dari itu. Aku mau denger suaraMu.

Namun, aku lemah. Terlalu mudah mengikuti distraksi. Siapa bilang hubungan kita mudah? Siapa bilang aku mau lari?

Ayo, Tuhan. Tarik aku terus. Jewer aku. Bawa aku pulang kalau aku nyasar.

Ayo, Agnes. Diam dan tenanglah. Dengar. Dia selalu berkumandang setiap kau mendengar ayam berkokok. Lihat. Dia selalu merangkai awan di atas sana. Hirup. Dia atur agar oksigen yang mudah kau hirup, bukan nitrogen. Ketik. Dia tahu kamu senang bekerja di depan laptop. Baca. Dia sediakan makanan untuk pikiranmu yang sering kelaparan itu.

Ayo, Agnes. Lanjutkan daftar ini di Jakarta. Jangan bergantung kepada Lembang. Sebuah tantangan. Undangan dan kerinduan. Yang harus terus diperjuangkan. Mati-matian? Ya. Mati-matian. Sebab seperti rusa yang merindukan sungai… Tidak. Seperti rusa yang berhari-hari tidak minum, haus dan merindukan sungai, begitulah jiwamu merindukan Tuhan.

Hanya diam. Dan tenanglah. : )

Semua orang bisa berubah. Bertambah tinggi. Semakin gemuk. Berkumis. Makin cantik. Sombong. Lupa daratan.

Semua orang pasti berubah. Semua orang yang katanya makhluk hidup. Bertumbuh setidaknya. Tidak statis. Tidak mati.

Aku berubah. Leherku menebal. Pinggangku melebar. Entah apalagi yang berubah.

Kenyataannya semua orang juga akan tetap sama. Paradoks yang berjalan paralel.

Contohnya kamu. Beruban dan tetap kasar. Berumur dan tetap egois. Berjanji berubah dan tetap keras kepala. Berkeriput dan tetap temperamental.

Akupun sama. Ada perubahan dan status quo berjalan bersamaan. Berumur dan tetap ceroboh. Berjanji berubah dan tetap teledor. Ya, ternyata kita sama.

Perbedaan kita mungkin hanya ini. Bahwa nampaknya aku masih lunak untuk dibentuk. Bahwa sepertinya kau sudah terlalu alot untuk berubah.

Dan sementara itu, Tuhanku menyuruhku untuk tetap mengasihimu. Sesungguhnya, aku enggan mengasihimu. Dalam kebuntuanku, aku berdoa.

Karena kepahitan hatiku dan kekerasan hatimu, hanya Tuhan yang bisa mengubahnya.

keras kepala. egois. gak dewasa. emosional. gak mo kalah. mudah tersinggung. berisik. ga sabaran. kasar. penggerutu. ga tau diri. ga mau repot. bossy. . . .

 

kok brenti?

 

kayaknya masih banyak deh.

 

lalu, gimana cara orang kayak gini gampang dimaafin?

gimana cara buat sayang ni orang kalo salahnya diulang-ulang?

gimana ceritanya mo cinta orang kayak gini kalo dia sendiri yang sering bikin orang yang sayang sama dia nangis?

 

sementara itu, saya, yang konon (terkadang) membenci dia, semakin lama, justru semakin mirip dia.

 

nah loh.

gimana tuh, Tuhan?

 

saya pun sok bertanya dalam kebebalan saya. . .

orang pintar bilang: wanita menghabiskan rata-rata 20.000 kata dalam sehari. gw wanita. dan gw mengamini hal tersebut. obral kata ini sudah terlatih sejak smp. masih segar teringat ketika gw pertama kali mengerti artinya membuat tagihan telepon rumah membengkak setiap bulan. ketika kuping panas mendengar senda gurau. ketika kerongkongan haus. mulut berbuih sampai kering. peduli amat. dialog itu terlalu asik untuk dihentikan. mulai dari teman sekelas hingga si kakak kelas ganteng. mulai dari satpam berkumis sampai guru geografi. ngalor dan ngidul. siapa yang mampu menyetop kami kecuali rasa kantuk atau orang tua kami yang tiba-tiba menampakkan wujudnya masing-masing di hadapan kami.

kemampuan bicara ini memang sudah terasah sejak belia. kumpulkan kami para wanita di malam hari dengan piyama kami masing-masing. letakkan kami di atas kasur. dan ritual rumpi pun akan dimulai. biar mata terpejam, mulut kami tetap mampu bergerak menyampaikan suara hati kami.

gw pun terkenal bukan sebagai orang yang pendiam. kerennya katanya sanguin. gak bisa diem. gak suka orang diem. dan bisa bikin orang jadi diem karena liat gw gak bisa diem. suatu hari ketidakbisadiaman gw ini mulai meresahkan orang lain. ganggu gitu deh. kadang gw ngerasa kayak orang mabok kata. meracau terus. kadang gw ngerasa gw kebanyakan ngomong (dengan sok tau) sampe orang lain jadi gak pengen ngomong. sering omongan gw kosong dan ga ada isi, penuh repetisi dan kesana kesini. parahnya malah bikin orang lain merasa tersinggung bahkan sampe nangis. sering dan sering gw merasa, gw terlalu berisik. polusi suara. dan gw mulai merasa…aneh.

kalo uda ngerasa aneh, gw berasa kayak ditoyor sama Tuhan: eh, bocah, cocotmu itu loh. gak usah kebanyakan dipake deh. itu dua kuping Gua buat lebar-lebar bukan cuman buat cantolan anting kale. begitu mungkin kalo Tuhan ngomong sambil noyor kepala gw. ngaku deh yang sanguin. pernah ngerasa gitu kan? iya, emang gw lagi nyari temen. tapi bener kan? pernah ngerasa kan kalo lu sendiri kayak radio rusak yang minta dibanting?

kali ini post gw ga usa panjang-panjang ah padahal lagi buntu ide. sok berusaha sinkron dengan judul yang gw buat. mari yang membaca, berkaca dengan gw. wanita maupun pria yang doyan ngomong. sanguin atau kolerik atau golongan lainnya yang doyan komentar.

pernah ga ngerasa kita terlalu berisik kayak radio rusak yang cuma punya dua speaker sampai kita lupa kalo kita ini manusia yang punya dua kuping?

kalo pernah, rasanya kita harus mulai belajar untuk…diam (dan mendengar!).

Have you ever felt like being empty? Like…being vacant? Barren? Dull?

I DO often feel empty. I DO OFTEN feel empty. Like what? Like after all these years I live, I often feel like I’m a walking zombie.

Is it a problem? It is, is it? Who would like being empty anyway? It’s not a favorable condition of a human’s heart. Yet, it’s normal, isn’t it?

There is just something wrong. Something wrong about this so-called emptiness.

Life’s like this tasteless. And people mostly get this wrong, relating this issue to love stuff.

Gah.

Actually, I know who’s The One that is capable to get rid of this shadow of emptiness.

Nonetheless, I usually trust any other sources that look more realistic to me. More tangible that I would easily trust those sources to fill this emptiness. And make me feel…full. Lively. Sparkling. Alive.

Yet…I still feel empty.

Well, then. I’m not sure about my current conditionĀ  right now. Life keeps running tho. And seriously, sometimes I wish that life could just stop running for a while. : |

.

.

.

.

.

-The Living Zombie-

Beberapa waktu yang lalu, gw sempet dapet sms yang menggelitik dari seorang teman baik gw. Smsnya kira-kira berbunyi seperti ini:

Nyez, tadi kamu cantik loh. Hehe gw seneng kalo liat lu dandan. Hehe jgn kucel2 yaaa. Emg males dandan terus. Tp seengganya jgn asal2an yaa. Walopun cuma keluar 5 meter dari rumah. HahašŸ™‚ cups love you darls.

Dua kalimat pertama membuat gw tersentuh dan bikin gw mengambang-tak-sampai-melayang. So sweet ya temen gw. Care banget gitu sama temennya (yang kucel ini). Hahaha. Yang muji gw ini juga jauh lebih manis dan cantik dari gw loh. Jadi gw sedikit merasa seperti gadis dari pinggiran yang dipuji tuan putri. Hahaha.

Kalimat yang mengandung kata “kucel” tiba-tiba berhasil membuat gw menjadi jongkok di atas tanah. Ternyata gw diangkat untuk dihempaskan. Hahaha. Setuju banget tapi! T_T I am a super-messy girl. Pertama, mungkin karena gw sering kurang tidur jadi bawaan muka gw suka kayak bantal. Kedua, karena gw kurang tidur, gw sering telat ngapa-ngapain dan akhirnya sering buru-buru. Dandan jadi prioritas sekian-sekian setelah makan dan sikat gigi. Ketiga, gw itu kan masi sering naik angkutan umum yang debunya super asik. Belum kalo praktek, muka gw jadi sasaran empuk mendaratnya tetesan liur yang tidak kasat mata. Maka gw merasa kalo dandan akan bikin muka gw tambah kotor dan berjerawat (walaupun ada teknologi yang bernama masker). Dan yang terakhir, yah karena gw emang males. Hahahaha. Cape deh.

Gw tanya sama Tuhan: Tuhan, katanya Tuhan melihat hati, gak melihat rupa. Tuhan, katanya perhiasan batiniah lebih penting daripada perhiasan lahiriah dan kepang-kepangan rambut. Katanya bungkus jiwa ini bakalan kendor dan luntur bertahun-tahun kemudian. Apa kabar dengan inner-beauty, Tuhan? Ini ada temen gw nasehatin kayak gini, gw mesti gimenong donk?

Hahaha. Tuhan tuh juga ketawa geli kali yeh denger gw curhat kayak gitu. Kira-kira ini yang gw tangkep dari Dia: Ember, Nak! Apa yang kamu bilang emang bener. Lha wong, Aku yang dandanin kamu sampe bisa cakep dalemnya kayak sekarang. Tapiii, kamu juga harus bertanggung jawab sama badan dan wajah yang membungkus jiwamu itu loh. Coba jadikan dandan itu sebagai alat untuk memuliakan Tuhan lewat wajahmu. Jangan sampe ada orang yang semangat kerjanya ilang gara-gara liat mukamu yang lusuh mirip kain pel belum dibilas. Jangan sampe juga ada orang yang merasa gelisah campur merinding pas melihat mukamu yang medok bak penyanyi dangdut. Juga jangan jadikan dandan sebagai topeng penjerat lelaki. Apalagi kalau sampai harus operasi plastik alias oplas. Yang penting enak dilihat dan pas sesuai ocassionnya. Prinsipnya simpel tapi relatif menarik. Inget juga yah, Nak. Aku kan bikin lelaki itu visually stimulated. Jadi yah mungkin jumlah lelaki yang tertarik sama kamu berbanding lurus dengan seberapa pedulinya kamu menata apik penampilanmu. Mungkin ini bisa diteliti lebih jauh oleh temen-temenmu yang kuliah di psikologi, Nak. Dan yang terakhir, yang paling penting, ingat yah, kepercayaan dirimu datang dari dalam, dari Aku yang mengasihiMu. Bukan dari luar. Anggap dandan itu sebagai privilege. Hanya alat. Bukan kemutlakan. Jadi, waktu mukamu bopeng sekalipun atau waktu kamu tidak bisa/tidak layak dandan lagi, kamu tetap dengan yakin berkata: Aku ini indah dan tetap berharga di mata Tuhan.

Wowowow. Okerio. Keren banget ya Tuhan gw. Dari sebuah sms lucu, Dia bisa ngajarin banyak hal lebih dalam daripada spesialis kulit manapun di dunia ini.

Nah, sekarang…

ajarin eke dandan donkkk! :p

Archives

September 2016
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930